Sunrise Dadakan yang Menakjubkan di Selatan Banten

Sebenernya ini masih lanjutan dari cerita Banten’s Journey, tapi gue agak ngubah dan mengerucutkan apa yang mau gue ceritain aja. Kalo gue jelasin semua, pegel. Gue males ngetiknya. Tapi karena gue pribadi yang suka sharing (sharing pengalaman, bukan duit), gue lanjut aja. Keren nggak sih gue? Wgwgwg.

Setelah gue pamit sama penjaga pos di Pantai Ujung Kulon, seperti yang udah gue bilang, gue ngelanjutin perjalanan dengan tujuan pertama yaitu pom bensin, buat mandi. Muka-muka lemes karena harus ninggalin sunset maha-pecah itu mulai kelihatan dari Abud dan Nando. Yaudah, mau gimana lagi, gue juga bingung cara ngebujuknya. Gue juga butuh dibujuk, sebenernya. Sesaat gue dan kedua temen gue nyampe di pom bensin, kami langsung mandi dengan tujuan menyegarkan diri dan memperbaiki tampilan agar lebih ganteng. Siapa tau ada Ariel Tatum lagi ngisi bensin, ‘kan lumayan buat temen ngopi. Waktu yang kami habiskan untuk membilas diri kurang lebih 2 jam, jika dikumulatifkan. Kami juga nggak berniat langsung jalan ke destinasi selanjutnya, melainkan mengambil waktu santai sejenak.

Mobil kami tinggal di pom, dan kami berjalan kaki untuk mencari rumah makan murah-meriah disekitar tempat tersebut. Ketemu. Sebuah warteg terlihat begitu menderang dari kejauhan, seakan ada malaikat di dalamnya, sehingga membuat bakteri-bakteri dalam perut kami semakin liar dan galak. Dengan langkah yang lebih cepat dan penuh nafsu, kami menghampiri warteg itu dengan harap makanannya enak-enak. Setelah masuk, menu pertama yang gue cari adalah telor dadar. Nando dan Abud mesen makanan yang agak mustahil gue makan. Nggak pake lama, Mbak-Mbak-nya menghampiri dengan sajian yang telah kami pilih di layar ‘touchscreen’ tadi. Wajah binal merekat di diri kami. Gigitan pertama, di balik semua harap, kami merasa puas, karena makanan ini penuh dengan mecin, atau dengan kata lain makanan ini enak banget. Bumbu yang katanya bisa bikin bego itu membuat nafsu kami meningkat. Kami nambah. Dengan menu yang sama dan harapan yang juga sama. Setelah kenyang dan bergeser jadi semakin bodoh, sesuai harapan, kami membayar makanan tersebut dengan uang yang harus dikeluarin nggak lebih dari 30 ribu rupiah. Beberapa batang rokok dan teh hangat, yang diselingi dengan candaan konyol, kami menutup makan malam kala itu.

20 menit berselang, Nando nanya, “kemana lagi kita?” nggak ada yang jawab, karena belum ada yang tau jawabannya apa. Kami berdiskusi, mencari rencana terbaik untuk destinasi selanjutnya. Dari sekian banyak list yang ada, Sawarna menjadi penutup trip keliling Banten kali ini. Rencana kami adalah melanjutkan perjalanan ke Sawarna sekarang juga, dengan harapan bisa beristirahat dulu disana. Gue nggak begitu semangat kali ini dalam menginjak gas, karena tujuan gue Sawarna, yang hampir semua orang udah pernah kesana lebih dari 2 kali. Yaudah, gue mah apa atuh. Lanjut aja terus.

3 cibobos

Setir gue pegang erat, mata diusahain tetap fokus, dan jalanan yang nggak kelihatan menemani gue lagi. Gue juga lupa saat itu jam berpaa, tapi firasat gue mengatakan itu tuh sekitar jam 1 atau 2 dini hari. Sebagai manusia nokturnal, gue kecewa dengan diri gue, karena mata dan tubuh gue diserang kantuk yang teramat kuat. Otak gue terus-terusan berpikir, “ini jalanan sepi amat. Nggak ada lampu, jarang banget rumah,” Ribuan kali kalimat itu terus berdengung di otak gue yang lagi bego level pro. “GUE NGANTUK BANGET!” teriak gue dalam hati. Gue pengen banget tidur, tapi nggak mungkin, karena keadaan lagi di jalan yang super sepi. Kalo tetep nekat untuk tidur di jalan tersebut, yang ada bangun-bangun gue udah di alam barzah. Gue berusaha sekuat mungkin untuk tetep jalan. Nggak lama berselang, ada warung pinggir jalan yang masih buka. Kayaknya biasa ditempatin sama supir truk buat beristirahat. Nggak pake banyak cingcong, gue mengubah rencana, karena nggak mungkin gue lanjutin perjalanan, takutnya malah jadi bencana. Gue juga nggak mungkin minta Abud untuk nyetir, karena kami bertiga bener-bener kekurangan tidur. Toh, setelah gue memutuskan untuk berhenti di warung ketiga, karena warung kedua udah kelewatan gara-gara gue kebanyakan mikir, Abud dan Nando juga nggak ngeluh. Kayaknya mereka juga butuh rebahan. Hampir semuanya mesen kopi. Bedanya, Abud dan Nando mengimbinasikannya dengan mie instant, sedangkan gue mengobinasikannya dengan mimpi pacaran sama Anisa Rawless. Dengan kata lain, kopinya nggak keminum.

Setelah cukup tidur (mungkin cuma 30 menit), gue ngelihat kedua temen gue tadi juga lagi rebahan: Nando lagi perang sama Goku di handphone, dan Abud juga lagi ngecek Instagram (firasat gue sih dia lagi ngelihatin cewek-cewek bohay).

“Ahhhhh,” itu bukan desahan, melainkan rasa capek yang spontan keluar dari mulut. Saat gue ngelihat kopi dan coba pegang gelasnya, tiba-tiba keluar lagi sebuah kata absurd yang menggambarkan tentang perasaan kesel, yakni “halaahhh,”. Gue kurang suka kopi dingin, dan itu bikin mood gue berantakan. Nggak pake lama, gue pesen lagi satu gelas kopi baru, padahal kopi yang tadi belum keseruput sama sekali.

Bersyukur, pas gue pesen kopi, kedua temen gue tadi menghampiri. Mereka super-care. Kayak ngerti gitu rasa capek yang lagi gue hadapin, padahal gue juga tau merepun capek. Egois ya gue? Hahaha. Kami bertiga ngobrol panjang. Kali ini pembahasan agak serius. Abud mencurahkan tentang rasa PeDe-nya yang entah kemana, dan Nando masih bergelut dengan imajinasinya tentang cewek tercantik di kampus. Nggak sadar, kami menoleh ke luar dan ternyata langit mulai membiru, yang menandakan pagi akan segera datang. Kami bergegas melanjutkan perjalanan. Eh, tapi nggak lupa bayar jajanan.

ig cibobosss

Di jalanan yang sepi dan jarang ada kendaraan, gue berpikir (lagi), “dapet sunrise nggak ya di Sawarma?” Yap, gue emang berharap dapet sunrise di Sawarna. Tapi, apalah daya, kami kesiangan. Eh, nggak lama berselang, masih di perjalanan menuju Sawarna, kami ternyata melintas tepat di pinggir pantai. Abud bilang, “ih, keren tuh!” Gue dan Nando menoleh ke arah pantai yang berada di sebelah kanan kami. Sontak rem gue injek. Gue kaget. Gue nggak nyangka ada spot se-cantik ini yang dibiarib begitu aja. “perjalanan ini banyak surprise,” tutur gue dalam hati. Gue cari spot parkir terbaik, dan langsung menyapa matahari terbit di pantai yang nggak tau apa namanya itu.

Nggak ada satu otang pun disana kecuali kami. Nggak ada satu bungkus rokokpun disana hasil kunjungan wisatawan. Dengan kata lain, kami kembali menemukan lokasi yang jarang diketahui orang banyak. Kaget dan terpesona adalah kesan yang gue dapet saat itu. “ternyata masih ada tempat keren disini (Banten) yang belum pernah dikunjungi,” ucap gue lagi dalam hati. Gue, Abud, dan Nando mengambil beberapa gambar terbaik untuk kami abadikan kelak dalam ingatan dan bentuk nyata. Kali ini, kami bertiga nggak banyak tingkah. Kami lebih fokus menikmati pemandangan yang nggak ada dua tersebut. Di pantai yang luas, dengan tampilan langit yang menakjubkan, kami agak melow. Kami cuma duduk, lalu memandangi sajian tuhan yang maha indah. ‘Me time’, mungkin itulah istilah yang banyak orang gunakan dan sedang kami lakukan. Kami agak menjaga jarak satu sama lain. Bukan karena lagi marahan, tapi karena lagi ingin menyendiri aja. Cowok nggak selamanya tangguh atau mempu menghadapi segala masalah. Cowok hanya cerdik menutupinya, lalu mengganti ’topengnya’ demi menjadi pribadi yang menghibur di depan orang yang dikasihinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s