Banten’s Journey: Ujung Kulon

Jelang beberapa menit kemudian, gue udah cukup merasa puas motret disana, dan Abud-pun mulai kewalahan fotoin Nando yang nggak pernah puas. Katanya sih biar cewek tertarik. Padahal mah semua cewek yang dia deketin nolak. Nggak ada satupun yang nyangkut atau kasihan ngelihat Nando. Biarlah Nando menjadi Nando dengan segala malapetakanya.

Setelah cukup berfotoria, kami bergegas masuk ke mobil, dan melanjutkan perjalanan. Dengan penuh keyakinan bahwa tempat selanjutnya adalah destinasi terkeren, kami memulai kembali perjalanan tersebut dengan riang tawa. Nggak jarang Nando curhat, ceritain tentang cewek yang dia suka, tapi nggak pernah direspon, otomatis jadi bahan ledekan gue sama Abud. Gayanya Nando sok sinetron. Ngebuka kaca mobil sedikit, ngelihatin pantai yang tepat disebelahnya sambil bengong. Kasian, tapi lebih banyak kesel.

Sepanjang perjalanan, selain Nando yang gerutu tentang kisah cintanya yang nggak pernah terbalas, gue sama Abud juga gerutuin hal yang agak nyinggung politik. Gue dengan segala sifat belagu gue ngomong, “parah sih. Ujung Kulon Loh. Badak terlangka kan ada disitu. Yakali jalanannya se-ancur ini,” Oke, gue emang masih nge-gerutu sampai saat itu. Bodo amatlah sama anak sekolah yang gue ceritain di artikel sebelumnya, gue cuma mau gerutu. Abud nambahin, “mungkin ini alasannya kenapa kita jarang banget ngelihat postingan orang lagi di Ujung Kulon, karena emang jarang banget ada yang kesini,”. Wow, that is the most simple-valueable-thought i’ve ever heard. Gue nggak nyangka Abud bisa mikir setajem itu dengan kasus yang super sederhana tapi nyata. Dari ratusan temen gue di Instagram, dan ribuan lainnya di Facebook, gue belum pernah ngelihat ada yang posting lagi di Ujung Kulon! Kacau! Gue makin kecewa, tapi gue tetep lanjuting perjalanan. Sayang, cuy. Gue nggak idealis banget kali. Duit nih duit.

Baru sekitar 10 menitan mobil melaju, kami menemukan apa yang sudah kami temukan sebelumnya, namun dengan rupa yang berbeda, yaitu jalur yang berantakan. Mungkin sebelumnya kami telah bertemu dengan jalur yang mirip trek BMX, nah, kali ini, kami menemukan jalur yang lebih mirip tempat mancing. Kolam alami dimana-mana. Sampe bingung, mana yang jalur dan mana yang hutan. Bete. Kalian bayangin nih, ya: ada lebih dari 10 kolam-kolaman, sedangkan setiap kolamnya kami harus melihat situasi lalu membuat strategi agar bisa lewat. Astaga dragon! “sabar, Wa,” adalah kata-kata yang terus-terusan gue pikirin.

Satu persatu kami lewati ‘tempat pemancingan’ tersebut. Lega, tapi bingung. Kam takut salah jalan. Ya, kami coba aja nanya ke warga sekitar. Percaya nggak percara, saat kalian hendak ke Ujung Kulon, lalu kalian mulai deket dengan tujuan, selain kalian harus melewati beragam uji nyali di atas, kalian juga harus melewati hutan-hutan nggak jelas. Tapi tenang, tetep ada penghuninya kok. Dari manusia sampe biawak. Nah, kami nanya ke manusia, soalnya Nando lagi males ngobrol sama sebangsanya, Danaus Plexippus alias ulet bulu. Alhasil kami bener. Kata ibu-ibunya, “tinggal dikit lagi, mas”. Duhhhh, ambigu abisss. Kami lanutin deh perjalanan. Muka-muka seneng mulai terpancarkan dari wajah-wajah penuh dosa kami.

Hari mulai senja, mungkin sekitar jam 5, dan kami-pun tiba di sebuah pos yang cukup besar, berukuran sekitar 6×6 meter. Lumayan berbeda auranya. Kami lebih merasa sedang berada di sebuah kampung… Ah, apa banget dah… Awalnya kami berpikir, “jalanannya aja ancur, pos penjagaannya juga pasti ancur,” eh, ternyata nggak. Cukup terawat. Malah bisa gue bilang paling mending dibanding rumah warga. Uniknya, pos penjagaannya dibuat kayak rumah panggung, ada gap-nya gitu. Ya, kalian tau lah buat apa; biar nggak diganggu Nando dan kawan-kawannya… eh, gue dong…

Mobil kami parkir sedekat mungkin dengan pos. Nggak, nggak gue tabrakin ke pos. Lalu kami keluar, dan menyapa para penjaga. Sumpah, mereka ramah banget. Belum duduk atau berbincang lebar, kami udah ditawarin kopi. “sore gini enaknya ngopi, Mas. Mau?” ucap salah satu bapak yang pertama kali menegur kami. Kami sebagai orang yang polos, suci, dan tampan dengan berat hati menolaknya. Padahal dalam hati gue bilang, “campur singkong goreng enak tuh, Bang,” Muka melas kami keluar, tapi demi menjaga image, kami tahan akan godaan kopi hitam tersebut.

Sebelum masuk ke kawasan pantai yang tinggal jalan sekitar 20 meter tapi nggak kelihatan karena harus ngebelah hutan, kami berbincang sedikit sama penjaganya. Hal yang pastinya kami tanya pertama kali adalah jalurnya. Menurut penuturan penjaga, jalur itu emang udah direncanai buat dibetulin. Tapi, karena jaraknya yang panjang, dana yang dibutuhkan juga gila-gilaan. Maka dari itu sampe sekarang belum terealisasi. Emang sih, bikin tol yang cuma beberapa kilometer aja butuh dana triliyun-an, apalagi ini. You know lah. Nah, penjaganya juga sempet ngasih tau bahwa belum lama ini ada semacem penanaman pohon bersama. Ada bupati gitu. Kayaknya sih program CSR. Pohonnya aja ditempelin nama yang menanamnya, entah apa gunanya. Setelah 15 menit basa-basi, kami memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat pantai disana. Kami jalan kaki menuju pantai yang jaraknya nggak begitu jauh dari pos. Cahaya matahari terbenamnya sih kelihatan dari pos, tapi nggak untuk pantainya. Nah, akhirnya kami sampai, dan kemi bengong seada-adanya. “Gilaakkkk!!!,” teriak gue kaget. Aseli, pantainya keren banget. Bersih banget. Sepi banget. Hampir nggak ada sampah sama sekali. Emang sih pantainya nggak lebar, tapi gue yakin, pantai ini adalah pantai tersbersih di Banten. Pasirnya aja halus banget. Nggak pake lama, gue ngeluari kamera, begitu-pun Nando yang tiba-tiba ngeluarin kamera Abud, dan meneror Abud untuk menjadi fotografernya, lagi. Kasian Abud, perjalanannya kali ini di teror siluman belalang. Belum lama kami menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya, bapak penjaga yang tadi menghampiri kami. Ternyata eh ternyata, doi khawatir. Dia cerita, dan gue merinding. Ternyata, di pantai tersebut hiduplah sebuah buaya. Alig! Gue kaget. Gue nggak nyangka… Eh, bentar, bentar. “kok di laut ada buaya?” pikir gue… Dijelasin lah sama penjaga bahwa buaya air asin itu ada. Beberapa orang nyebutnya buaya muara. Nah, buaya muara, gue baru inget. Si Abud juga nambahin, bahwa ada yang namanya buaya air asin. Makin geli dah gue. Parahnya lagi, si abang-abang penjaga bilang, “udah makan korban, Mas,” Mampus loh. Kelar nggak hidup kalo begitu. Pantainya sih cantik, susah di tolak, tapi kalo ada hewan yang bisa jadiin kita cemilan buat mereka, gue parno lah. Menurut penuturan penjaga, buaya-buaya tersebut datang bukan tanpa sebab. Ternyata banyak orang yang memelihara buaya, dan saat buaya itu udah gede, dibuanglah kesini. Coba bayangin: ada buaya, udah gede, dibuang kesini, biar hidup mereka bisa lanjut. Nah, sekarang udah segede apa? Kayaknya nggak perlu ngunya buat makan gue. Langsung telen. Meskipun demikian, warga sekitar tetap mengadu nasib di tempat itu dengan mencari ikan alias menjadi nelayan. “Sebenernya sih mungkin takut, tapi kan mereka cari uang dari cari ikan. Ya, mau gimana lagi,” tutur penjaga. Kasian, ya. Mereka bukan cuma menaruh harapan di laut tersebut, tapi juga nyawa.

Obrolan berlanjut, dan si penjaga pun mulai bercerita banyak hal. Mungkin maksudnya biar kami nggak takut, jadi dia bikin obrolan yang seru dan jauh dari pembahasan tadi. Tapi emang seru banget sih omongan dia. Nah, dia ngasih tau ke kami, di pantai ini, lebih tepatnya di sebelah pagar pembatas, cukup sering para badak keluar dan terlihat dari spot tersebut. Mungkin doi juga doyan sunset-an. Beberapa hari lalu, sebelum kami kesini, si penjaga bilang ada yang beruntung bisa ngelihat badak pantai ini. Katanya sih ada dua badak, mungkin berpasangan, lagi hangout, ngerayain anniversary. Nah, gue pribadi penasaran dong. Gue juga mau ngelihat badak. Gue tanyalah gimana caranya, dan si abang ngasih tau, “susah, Mas. Jangankan orang, spy cam yang udah dipasang diberbagai sudut aja nggak segampang itu nangkep gambar badak,” alamakkk, miris kali gue ini. Gua bingung, masa sih nggak ada cara sama sekali buat ngelihat badak. “Kalo Mas mau lihat badak, minimal harus siapin 20 hari. Itu yang menurut saya standar,” tutur penjaga menjelaskan. Waduh, 20 hari, cuy. Itupun kalian harus hidup dan menelusuri hutan alias tempat yang menjadi Taman Nasinal Ujung Kulon. Sekedar info, Taman Nasional Ujung Kulon itu luasnya sampe 443km persegi, atau hampir sama kayak luasnya Jakarta. Muterin Jakarta naek motor aja bisa pingsan, inilagi jalan kaki telusurin hutan, yang ada keluar-keluar jadi Tarzan gue. Nggak bisa bahasa Indonesia, ngertinya cuma bahasa burung sama uler sanca. Meskipun begitu, ternyata nggak dikit yang sangat tertarik sama badak yang ada di Ujung Kulon. Menurut omongan penjaga, seorang fotografer dari media raksasa National Geographic pernah kesini dan berekspedisi selama sebulan lebih demi mendapatkan foto badak. Gila, ‘kan?!

Setelah cukup lama berbincang, gue entah kenapa memperhatikan ke wajah si penjaga. “kok ada yang aneh, ya,” pikir gue. Oh, ternyata bukan wajahnya yang aneh, tapi cahaya yang menyinari wajahnya itulah yang bikin kelihatan aneh… eh, gimana sih… Yaudah, gue coba tengok ke arah pantai. BOOM! sunset terkeren seumur hidup gue ada di depan gue. Gue nggak ngerti harus gimana jelasinnya. Mataharinya turun tepat di atas sebuah gunung. Warna langitnya beragam, ada biru, orange, merah, pink, ungu, hijau. Wah, itu langit kalo digulung jadi gulali pasti. Sumpah, manis banget pemandangan itu. Gue duduk di pantai yang pasirnya halus sama dua sahabat gue, di depannya sunset super indah, sambil dengerin deru ombak kecil yang bikin tenang. What a great moment ever lah! Saking kerennya, Abud nggak mau diajakin balik ke pos, padahal kondisi udah makin gelap, nyamuk-nyamuk juga udah nyiumin kami dari tadi.

Pas berhasil bujuk Abud ke pos, nggak lama berselang, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena kalo terlalu gelap bisa bahaya. Jalanannya kan ancur. Sebelum balik, tentunya kami pamit sama para penjaga. Ya, bagi-bagi rezeki dikit. Soalnya, kami juga nggak dipungut biaya untuk kesana. Yap, gratis. Setelah pamit, kami memulai perjalanan panjang kami untuk mencapai jalan raya yang aspalnya udah mendingan. Tujuan pertama kami adalah pom bensin, buat mandi.

(BERSAMBUNG)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s