Banten’s Journey: Pantai Teluk Paraja

Hari udah agak siang, badan gue makin lemes karena nggak tidur seharian, tapi gue punya kewajiban lain di balik perjalanan gue ini. Sambil nikmatin deru ombak, gue dan kedua jelmaan siluman tadi berunding untuk menetapkan tujuan selanjutnya. Obrolan dimulai, wajah-wajah serius keluar, semakin lama kami semakin sadar kalo ternyata dari tadi kami nggak ngomongin destinasi, tapi cewek hot yang ada di kampus. Emang agak susah ditolak obrrolan yang satu itu.

Kami sadar dan kami terpukul. Kami adalah jiwa-jiwa hampa yang hidup tanpai belai seorang hawa. Terbungkam waktu, berselimut iba. Obrolan terpaksa kami skip. Bukan karena kami mau mengalihkannya untuk menetapkan tujuan, tapi takut aja jadi gila. Kali ini kami mulai berunding tentang destinasi. Coba melihat-lihat peta Banten. Menerawang sambil berpikir, “daerah mana yang banyak wadonnya”. Lah, kok itu lagi.

untitled (5 of 1)

Alhasil, Abud, cowok kalem dengan pemikiran liar ini punya ide untuk menjelajah ujung Banten. Yap, Ujung Kulon. Tanpa pikir panjang, kami semua bergegas. Dengan istilah ‘Sebatbut’ yang sebenernya nggak sebatang cabut, karena kami mengombinasikannya dengan segelas kopi hitam dan semangkuk indomi, perjalananpun dimulai, kembali. Masih gue yang memimpin perjalanan A.K.A nyupir. Gue dan kedua temen gue itu kurang tidur, atau malah kita belum tidur sama sekali. Gapapa, gue cowok super-tulen. Gue pasti kuat. Jangankan nggak tidur, nggak diundang ke nikahan mantan aja gue kuat.

Dari awal kami jalan, gue pribadi udah ngerasa capek pas ngelihat peta. Jauh banget. Belom tidur pula. Tapi demi kewajiban, gue kokoh menerjang jalan. Perjalanan ini kami gantungkan pada ketepatan GPS. Kalo GPS ngasih petunjuk yang ngawur, maka selesailah perjalanan ini. Berjam-jam kami lalui. Dari obrolan masih seru, sampai kami nggak tau mau ngobrol apa lagi, tempat yang kami tuju masih belum sampai. Paling, kami berhenti hanya untuk beli cemilan atau godain cewek cantik di pinggir jalan. Maklum, fakir asmara. Selang beberapa lama, kami melihat ada patung badak di sebelah kiri jalan. Kami pikir udah dekat, ternyata nggak. Kami coba tengok GPS, tugas kami hanya tinggal mengikuti jalur yang sedang kami lalui. Nggak ada belokan atau persimpangan jalan lagi untuk mencapai lokasi, tapi jaraknya tetap jauh. Biar waktu nggak begitu terasa, kami matiin aja GPS-nya, lalu kami fokus menempuh jalan, sambil ngobrol dan nyanyi-nyanyi.

untitled (8 of 1)

Sekitar 15 menit berlalu, kami dikejutkan dengan apa yang ada di depan kami. Bukan cewek cantik, tapi jalanan yang ancurnya bukan main. Lebih mirip trek BMX. Kami coba tetap melanjutkan perjalanan. Semakin lama, semakin banyak pertanyaan, “kok nggak selesai-selesai trek BMX ini,” Saking penasarannya, kami bertanya lah ke warga sekitar sambil beli jajanan. Jawabannya bukan jarak, tapi waktu. Yap, warga yang kami tanya nggak menjawab seberapa jauh yang harus kami tempuh untuk melewati jalanan nggak jelas ini, melainkan menjelaskannya dengan waktu, yakni 1 jam. Penuh rasa kaget dan bingung, kami nggak puas dan tanya lagi guna memverifikasi. Bener aja. Perlu waktu satu jam untuk melewati jalanan yang mirip trek BMX tersebut, dan itupun belum sampai di tujuan. Asli, kesel bukan main. Kenapa? Kok bisa jalur menuju taman nasional segini parahnya. Kayak nggak ada perhatian sedikitpun dari pemerintah. Kami pikir, mungkin ada jalan lain yang lebih bagus. Tapi, setelah kami tanya warga sekitar, jalur ini adalah jalan satu-satunya menuju Taman Nasional Ujung Kulon. Wah, kacau. Kami lemes. Pupus harapan. Tapi, kami ngerasa tanggung. Kami percaya ada hikmah di balik ini semua. So, perjalanan tetap kami lanjutkan dengan hati yang tabah.

Satu jam lebih berlalu, dan jalur berbentuk bukit yang sebenernya bukan bukit itu sudah kami lewati. Kami berhenti sejenak di warung untuk ngopi dan menghilangkan kesal. Kami bertanya pada pemilik warung, “Ujung Kulon udah deket?”. “udah, ‘a” jawab pemilik warung. Perasaan lega, letih, dan penasaran beraduk jadi satu. Kami tetap mengambil waktu santai sejenak, karena si Nando juga kebelet pup. Doi pup di pinggir kali. Di samping rumah warga. Kasian ya anak rimba. Setelah bakteri jahat itu selesai pup, perjalanan kami lanjutkan dengan penuh semangat.

untitled (9 of 1)

 

Sebelum sampai tujuan, kami dikejutkan dengan pemandangan cantik yang nggak biasa kami lihat. “Ada pantai, tapi kok sepi banget,” seperti itulah kata-kata yang terlintas saat melihat sebuah pantai sebelum sampai di Ujung Kulon. Pemandangannya cantik, sepi, dan juga bersih. Bener banget, ini pantai liar, alias pantai yang nggak dijaga dan nggak dikelola siapapun. Wah, pikir gue, kayaknya rasa letih ini bakal kebayar. Aslinya gue nggak tau nama pantai ini. Pantai Teluk Paraja adalah inisiatif gue aja untuk memberi nama. Sadis kan? Kalo astrolog namain bintang-bintang, gue namain pantai. Anjaayy!

Pantainya bersih banget, air lautnya juga biru banget. Sumpah, kerennya nggak ada dua. Nggak pake pikir lama, dan nggak pake pikir ribet, kami berhentiin mobil dipinggir jalan yang sepi itu, terus kami nikmatin pemandangan yang nggak setiap hari bisa di lihat itu.

untitled (7 of 1)

Belom ada 15 menit berhenti, Nando mulai berulah. Emang si siluman tapir ini sering nyusahin. Dia minta difotoin. Abud adalah korbannya. “Buat foto Line gue selama setahun nih,” ucap Nando. Abud dengan sabar meladeni Nando yang bikin kerjaan, dan gue berusaha kabur sejauh mungkin dari Nando.  Gw jepret sana-sini, mereka berdua-pun begitu. Gue makin kagum sama tuhan. Ciptaan-Nya selalu mengejutkan. Di pantai yang memiliki panjang sekitar 100 meter dan lebar sekitar 20 meter ini gue sadar, kita, manusia, kayaknya kurang bersyukur sama hidup. Gue ngeluh ngelewatin jalan yang konturnya kayak trek mototrail, padahal ada anak kecil di luar sana yang meski jalan kaki, ngelewatin sungai, manjat bukit, cuma buat sekolah! atau mungkin cuma buat nyari tumbuhan yang bisa mereka masak untuk dimakan. Gue tersentuh (hmmm). By the way, di Pantai ini, jiwa anak rimba gue keluar. Rasa ingin nyebur ke airnya tuh menggebu-gebu banget. Biru banget air lautnya. Gelombangnya juga tenang. Mungkin karena pantai ini berada di teluk, jadi ombaknya ketahan gitu (sok tau abisss). Tapi, gue harus bisa menahan diri. Gue punya kewajiban, dan persoalan nyebur cuma bisa dilakuin di destinasi terakhir.

Bagi kalian yang mau liat foto-foto lain pantai ini, cek disini: Foto-foto Pantai Teluk Paraja

Bagi kalian yang mau cari pantai-pantai sejenis, cek disini: Pantai

Bagi kalian yang mau tau destinasi-destinasi kece, baca aja di www.gloob-online.com

Bagi kalian yang mau donwload majalah Gloob! yang ngebahas pantai ini, cek disini: Majalah Gloob!

(BERSAMBUNG)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s